Tuesday, September 20, 2005

Growing Joys

Lagi inget salah satu sitkom jadul yg judulnya ‘Growing Pains’. Ceritanya tentang satu keluarga yang selalu hepi-hepi joy-joy. Udah lama banget tuh filmnya, jaman gue SD dan jaman Leonardo di Caprio masih jadi newcomer.

Its one of a great movie. Sesuai dengan judulnya, di film itu diceritain suka duka pertumbuhan anak2nya yang ada 4 deh kalo gak salah, sama suka duka emak bapaknya yang repot ngurusin mereka.

Gak ada yang gampang dalam proses perjalanan pertambahan umur. Makanya kali kenapa frasenya itu judulnya ‘Growing Pains’, bukan ‘Growing Joys’. Banyak kasus yang kejadian sama tu anak2, dan masalahnya bisa beda2 banget tergantung sama karakteristik anak2nya. Leo di sitkom itu jadi homeless kid temennya si Mike (Kirk Cameron) yang kemudian eventually diangkat anak sama keluarga itu. Untung Leo (gue lupa namanya di film itu sapa) ketemu Mike, jadi hidupnya ketolong banget bahkan Leo jadi punya keluarga baru yg sayang sama dia. Jadinya proses ‘growing’nya si Leo wont be too painful cause he knows that there’s people who care.

Emang kayanya obat yg paling manjur buat nemenin proses pertumbuhan kalo diumur2 segini bukan lagi susu kaleng yg mengandung AA dan DHA. Hehe. Tapi dukungan dari orang-orang yang sayang sama lo dan lo sayang balik bisa memegang peranan yang sangat penting.

Sama ama morphine, rasa sayang itu nyandu juga, dan bisa destructive kalo pemakaiannya gak sesuai dengan kondisi tubuh pengguna. Tapi, sama ama morphine juga, rasa sayang itu perlu untuk meredam rasa sakit, ngebuat kita hepi2 joy2 selalu dan juga jadi temen yang setia untuk ngebuat proses ‘Growing Pains’ jadi ‘Growing Joys’, as long as we got each other. Sama ama soundtracknya.

Show me that smile again. (Show me that smile)
Don’t waste another minute on your cryin’.
We're nowhere near the end (nowhere near)
The best is ready to begin.

Oooohhh. As long as we got each other
We got the world spinnin right in our hands.
Baby you and me, we gotta be
The luckiest dreamers who never quit dreamin’.

As long as we keep on givin’
we can take anything that comes our way
Baby, rain or shine, all the time
We got each other Sharin’ the laughter and love.

Tuesday, September 06, 2005

never ever tell a lie to a friend

It will be all perfect if our life is always so smooth sailing (taken from friendster :p) from time to time. It will be all nice if we have nothing to hide, no secrets, no mistakes and no flaws. But I consider it to be an incomplete package of life.

Along our life, there are things that we prefer to hide, such as the troubles with our families, friends, couples, or other things like committed to crime or many others. They would create barriers that protect us from other people, especially on those who start to care for our secret. Though this barrier is invisible, it is so powerful to determine our future relationship with the other.

The reactions would be varied for those whose being approached, some stick with their lies, some deny it all the time, some choose to run away, and also there are some people –I don’t know whether they are smart, tricky or simply just possess some mental illness- who choose to be mad and put the fault in the person whose being concern. However, some also choose to tell the truth.

It is one of our quests in life to find someone that we can trust to share our secret with. A relief feeling after sharing stories has an amazing effect in your heart, though. This person who has the privilege of sharing secret doesn’t necessary have to be our couple. A friend even said to me, ‘You could tell lie to your spouse but never ever tell a lie to your friend’. Or on several cases it could be our Mom. There are no exact measurements on how certain person could understand us.

Just let our feeling to talk.

(thanks for all your stories)

Wednesday, August 31, 2005

yesterday and today

1. Woke up late and find my bathroom is so dirty and I really need to clean it up
2. I didn’t get the ticket for my vacation to Bali this weekend
3. My booth friend is planning to resign
4. My dearest buddy gotta stay longer in another city while I got so much things to talk
5. I got call from my boss during my lunch time out of the office and she protested on my absence of a meeting that I didn’t even know it exist
6. I gotta walk at such distance on the most hot temperature of the day
7. Suddenly my boss make a statement to forbid lunch out of the office except on Friday
8. I realized that I`m just a sitting duck in a project
9. A friend disappointed at me and said that I accused her having an affair, while I have already put so much concern on her
10. The book seller in the mailing list said that the price of the book that I had order is increased
11. I`m running out of coffee
12. When you just wanna be alone to write this list, everybody came to ask for anything
13. When you want to post this writing, the internet is just breaking down
14. When I feel relieved on the next day, I just know that this misery hasn’t end yet.

(Really hate how other people problems have strong deterrent effects to your own friendship)

Thursday, August 18, 2005

It’s your time, buddy!

What hurt the most is when you know you care for someone and at the same time you know that you are in the right position to hurt that someone, moreover its because you doesn’t know which of your deed that could be the reason of hurt.

What confusing the most is that when two people care for each other and too be careful of the friendship therefore they didn’t say some words because too afraid it will hurt the other.

The most dilemmatic is when you always want to be a friend to talk to and to care for and vice versa, because there is no way to deny that its needed. But in the other hand you’re afraid that it may lead into different expectations beyond your capacity that could lead to unhappiness.

On top of all, the most difficult thing is how to say this in precise and accurate words?

[
There is no way that we could change the past and regretting what we have already done and gone through. But as long as we have the time to create a new beginning, let’s make it right and cheery.

Everybody already speak their language, ask their questions, and request their needs. Now its time for you, buddy. It’s your only life. Do what you want to do, and stop hurting yourself just to please everybody. It might hurt you even more.
]

Thursday, August 04, 2005

merasa bahagia

Permintaan utama gue kalo lagi berdoa adalah minta yang terbaik. Dilancarkan semua yang terbaik buat gue dan dimudahkan jalannya supaya yang terbaik itu cepet nyampe depan mata gue.

Tapi ternyata minta yang terbaik bukan hal yang paling gampang untuk disebutkan. Seringnya yang pengen keluar adalah minta apa yang kita mau dan apa yang lagi dipengenin. Seringnya yang pengen didoain adalah hal-hal memaksa supaya semuanya as good as a fairy tale. Akhirnya keluarlah satu doa sempurna, yaitu berharap apa yang kita mau harus jadi yang terbaik buat kita. Padahal deep inside my heart gue tau kalo itu maksa banget.

Memang gak semua mimpi bisa disatuin. Apalagi kalo berkaitan dengan orang lain, lokasi, waktu dan lain sebagainya. Gue mendamba suatu kompleks mungil yang isinya semua yang gue mau. Ada sahabat, keluarga, pasangan dan anak, dilengkapi dengan infrastruktur berupa kantor-kantor yang tepat untuk setiap individu yang gue sayang yang cuma segelintir itu serta sekolah yang baik. Supaya gak perlu ada farewell. Satu-satunya pesta yg gue gak suka selain pesta dung dung.


Makanya itu yang buat gue seneng main The Sims, dimana kehidupan bisa lo atur sesuai dengan yang lo mau. Mau tambah tajir bisa cheat dengan gampang dan tidak berdosa, tambah seneng atau sedih ada prosedur2nya dan gak mungkin gagal karna udah sesuai dengan program2 yang udah diatur, tambah fitur-fitur tinggal nanya dan download2 di internet, dan yang paling asik, kalo udah bosen atau sebel, tinggal direstart aja. Dan yang pasti, gak ada yang pake hati. Jadi gak perlu ada rasa sedih dan takut akibat proses meninggalkan-ditinggalkan. Dalam The Sims semuanya udah pasti jalannya. Gak kaya kehidupan gue where the only certain thing is uncertainty.

Kemarin sempet ada suatu harapan. Tempat baru yang tampaknya menyenangkan dan banyak yang baru baru dan tampak meriah. Nggak taunya hari ini dapet kabar ternyata tempatnya masih belum buat gue. Lagi. Gue bisa koleksi surat penolakan nih. Disinilah ego gue keluar. Walau tiap saat berdoa agar diberikan yang terbaik, dan dengan berat hati meminta jika ini bukan yang terbaik maka jauhkanlah, tetep aja bak tergampar yang namanya ditolak lagi. Ditambah lagi pas mo dikeluarin ke seorang sahabat eh malah dicuekiiinnn!! Jadi aja jalan-jalan beli es krim sendirian demi menghibur diri. Untung disusulin sambil ngos2an, jadi gak bete lagi deh. Malah jadi gak enak. Hehhehe.

Tapi memang Tuhan gak pernah cuekin gue lama-lama, walau guenya sering banget cuekin Dia. Sorenya ada harapan lagi muncul. Abis itu menghibur diri dengan jalan-jalan tolol nengok kos temen, naek bajaj sempit-sempitan dan ngata2in bos. Emang Tuhan suka kerja dengan cara yang kadang gue terlalu bodoh untuk ngerti.

Malamnya dengerin lagu ‘Aku Ingin’ yang direkamin sama sahabat jelek gue itu. Walau takut sama apa yang didepan dan kadang berharap waktu berhenti sampai sini saja, gue berdoa lagi untuk dilancarkan semua yang terbaik buat gue. Dan sedikit nyelipin doa maksa ajaran Indra Lesmana: gue ingin senantiasa merasa bahagia.

(PS: entah kenapa lately gue gak bisa lagi terlalu egois, sekarang tiap berdoa akan selalu berlaku jamak, for me and for those who will always live in my heart)

‘sejuknya hembus angin, tlah redakan
sgala amarah dalam hatiku

terkadang kusendiri tak mengerti,
begitu mudah daku kecewa

dan ini sering kali terjadi
setiap harapanku tak terpenuhi

kucoba menyendiri, dan membisu
tuk memahami, isi jiwaku

lalu tercipta sebuah lagu merdu
tempat curahan segala resah

dan kuceritakan, pada dunia
tentang harapan dan angan-anganku’

aku ingin dapat, bebas lepas
aku ingin senantiasa, merasa bahagia

aku ingin dapat, terbang jauh
bila tiada ada yang peduli’

Sunday, July 31, 2005

chatting sampe keriting

Ceritanya gue lagi terdampar di warnet, mengantar sepupu gue cari bahan buat kuliahnya. Pergilah kita ke warnet tempat gue dulu sering mengadu nasib. Demi sepotong nostalgia, pesanlah gue satu komputer sendiri tanpa tujuan yang jelas gue mo ngapain. Sampe akhirnya gue dengan isengnya ceting pake MIrc. Salah satu program chatting yang udah lama gue tinggalin.

Iseng-iseng mari kita bahas komponen-komponen chatting terutama di dunia MIrc inih.

--Pilih Channel--
Abis terkonek, gue bengong ngeliatin layar yang gak ada reaksi. Ups, harus milih channel ternyata!

#bandung: isinya orang-orang bandung, pengen punya pacar dari bandung, pengen ke bandung, pernah denger kata bandung, atau gak sengaja kepencet join

#cafeblue: isinya orang-orang yang pengen nongkrong di kafe tapi jadinya malah nyasar ke warnet

#smun3: adminnya anak sma yang baru ngerti cara jadi admin di channel mirc


--Message-message awal--
Setelah memutuskan untuk gabung di #bandung dan #jakarta, ada serentetan orang yg langsung masuk. Sepertinya sih automated, imho. Biasanya mereka nawarin hal yang sifatnya lebih private, misalnya:

1. Channel yang udah dikhususin buat kelompok tertentu
“Cina_ganteng: Tempat chit chat chinese indo? #HuaRen dong asik. klik 2 kali => #HuaRen”
(gue bisa donk ngaku chinese, lah si ucup bajaj bajuri yang lebih item dari gue aja itu kan ternyata chinese)

2. Nawarin web berisi gosip-gosip artis terkini
“Co_keren: Hidden Cam, AGnes di ngentot semasa Virgin, ayo liat di http://sexy-cam.lexson.tv. Dijamin anda tidak pernah liat”

3. Channel yang nawarin jasa kontak jodoh
“Ociee: cari gebetan di Cilandak Townsquare yuu! klik 2x -> #citos”
“Arjuna: Looking for a date near your place? search here
http://datesearch.zu5.net

--Nickname--
Selanjutnya dimulailah langkah-langkah agresip militer. Dari sekian banyak nick, mana ya yang mo gue ajak ceting? Coba deh gue intip-intip dan gue bikin profilenya dulu:

: hm, ini yang sering baca iklan baris, ngirit banget ngetiknya, dan frontal pula. Sama yg begini lo udah tau tujuannya apa, tinggal lo mo nerusin apa kagak.

laki_28: orangnya kayanya gak suka boong, jujur apa adanya, lelaki, 28 tahun

hantu_juga_manusia: pengamat musik, hey, jangan-jangan ini Candil?

: sok promosi, dan dijamin gak ganteng
eeeeeeeeeeeeeeee: keabisan nick buat chatting, atau keyboardnya rusak?

feroza_biru: mengerti keinginan cewek2 yang haus dianter jemput

guest79327: belum ngerti cara buat nick atau cara ganti nick

--Sapaan awal--
Setelah sedikit hi, hello, dan apa kabar, pasti yg mereka tanyain adalah asl: age, sex, and location. Itu bisa jadi screening pertama. Kalo emang gak minat sama yg lebih muda, same sex atau yg jauh2, udah deh mending berhenti aja chatnya. Abis itu, step2nya biasanya begini:

kechoa_push up: kok dicuekin sih? ==> orangnya sensi
Adit_cakep: Cybersex yuks ==>deu, carinya yang gratisan
Co_banget: Kerja atau kul? ==> standarrr!!
Andika: Gue lagi bete nih malem ini ==> suka curhat
Kakang_prabu: Gue disini kan cuma buat ceting sama lo.. ==>ngerayu..

Udah deh abis itu gue ceting ketak ketik ketak ketik. Boong sana boong sini. Malem itu gue menyerupai Sybill yang punya kepribadian 16 biji. Tapi lama-lama males juga ngobrol basa basi mulu dan sering banget dituduh cewek jual diri gara-gara di warnet sampe jam 2 pagi. Udah deh akhirnya buat blog aja dan nyuekin tuh cowok-cowok yang manggil-manggil gue.

Friday, July 15, 2005

Hukum Kekekalan Miracle

Gak nyangka ternyata Mariah Carey lagunya lumayan berisi juga.

Pas gue sma gue suka lagunya Mariah Carey yang ‘When You Believe’, duet sama Whitney Houston untuk soundtracknya Prince of Egypt. Hm, jadi pengen nonton pelemnyah. Jaman SMA gue lagi doyan2nya nebeng temen gue. Dan kadang gue nongkrong di tempat nunggu angkot sambil nyanyi2 sendiri, ‘there can be miracle, when you believe..’ trus saat itu miracle yang datang adalah salah satu tebengan gue lewat sehingga gue bisa gratisan pulang.

Semakin kesini miracle yg gue harapin jauh lebih complicated dibandingkan sekadar cari tebengan pulang. Well, itu juga masih berlaku banget banget sih makanya gue suka melacurkan diri kalo weekend mana tau ada yang mau ngangkut gue ke Bandung.

Kadang kalo lagi bokek, gue berharap ada miracle dengan ada orang di pinggir jalan tiba2 ngasih gue kerjaan. Kalo lagi hopeless, gue pengen langsung ada orang yang tepat yang bisa ngasih a helping hand atau a shoulder to cry on. Kalo lagi bosen, gue berharap ada miracle depan gue tiba-tiba muncul Project Pop dan nyanyi-nyanyi kaya orang tolol biar gue terhibur.

Yah, kadang miracle itu emang ngeselin. Tapi seperti kata mereka, ‘There can be miracles, when you believe, though hope is frail, it's hard to kill’. Emang yang kita perluin cuma percaya, percaya kalo Yang Diatas Sana gak akan menghilangkan satu miracle pun dari apa yang seharusnya kita dapatkan. Jika kita udah berasa bakal dapat miracle dan ternyata tiba-tiba nggak jadi, mungkin Tuhan lagi buat maksud lain yang pastinya bakal lebih baik. Atau mungkin miracle yang udah kita bayang-bayangin itu hanya akan membuat kita melupakan hal-hal lain yang lebih baik lagi buat kita.

Mungkin disini berlaku Hukum Kekekalan Miracle yang bunyinya sama ama Hukum Kekekalan Energi: ‘Miracle bisa berubah bentuk tapi tidak bisa dimusnahkan’. Saat gue lagi didominasi oleh pikiran positif sih gue bisa mikir kaya gitu banget. Tapi dikala lagi negatif dan mellow, gue hanya bisa meratap, ‘mana miracle buat gue, Tuhan?’.

Thursday, July 14, 2005

sayang badan sendiri yuks

Hari ini temen gue kena tragedi sama badannya. Tiba-tiba ada benda kecil bernama bisul yang gak diundang nyerang di paha kanannya bagian belakang. Sakitnya luar biasa katanya, kurang lebih mirip sama rasa sakit sehabis operasi caesar. Jalannya langsung gak bener, bilangnya sama orang sekantor sih terkilir, jadi bingung juga mikirin gimana cara nolak tawaran tukang pijet urut dari mereka yah?

Temen gue yang lain ada masalah dengan ujung jari tengah tangan kanannya. Katanya ada yang salah dengan pertumbuhan kukunya yang ngebuat sang jari jadi sakit. Mukanya sampe meringis meringis kalo sakitnya lagi kumat. Kadang masih usaha mencet-mencet jarinya dengan berbagai usaha, ngorek-ngorek kukunya dengan harapan sakitnya ilang.

Seumur-umur kayanya gue gak pernah terlalu peduli dengan keadaan paha belakang atau ujung jari. Yang selalu gue concern adalah yang fatal-fatal kaya patah kaki atau patah tangan, buta, budeg, atau segala macam hal yang bisa menciptakan suatu masalah yang besar. Sampai akhirnya gue nyadar, semua bagian dari tubuh kita, kalo berkasus, pasti kerasa banget sama bagian tubuh yang lain. Segimanapun kecilnya bagian itu.

Coba deh gue tes, apa lo tau tinggian mana jari telunjuk dan jari manis lo tanpa perlu liat dan bandingin dulu? Bagian lengan lo pori-porinya besar atau nggak? Berapa banyak tai lalat di dagu lo? (yg ini malah temen gue yang tau) Masih ada bekas luka gak sih di sikut lo? Berapa jumlah gigi lo sekarang?

Emang kadang kita suka tau banyak hal tapi malah hal kecil tentang tubuh kita sendiri kita gak tau. Padahal kalo kenapa-kenapa, nanti yang sakit pastinya kita juga.

Yuks, kita sayang sama badan kita sendiri!!!

(mencoba menyemangati diri sendiri biar sayang ama badannya dan mulai usaha buat diet)

hate being grown up

I miss the time when I didn’t have trouble in finding the right clothes to wear today

I miss the time when I got so boring in class I can just simply skip it

I miss the time when my greatest dream were merely being a cookies seller

I miss the time when I could cuddle my family without being awkward

I miss the time when I didn’t think that I need money

I miss the time when I didn’t have to choose which path I should take, because everything were so smooth and goes only in a limited way

I miss the time when buying one comic per week could satisfy me

I miss the time when playing with mud, buttons and rubber could attract my best laughter

I miss the time when I know less

I miss the time when I dream less

I miss the time when I want less

I miss the time when I care less

I miss being a little girl, though when I was little, I did hope to get all what I already got

Thursday, July 07, 2005

Tolong Tuhan..

Emang susah banget buat orang percaya dan ngerti apa alesan dari tindakan-tindakan gue sebenernya. Ada yang bilang anak mama lah, dan ada juga yang bilang gue terlalu mengikuti aturan-aturan yang ada.

Potong kuping gue kalo emang gue tidak berusaha mendengar sekaligus berusaha cuek. Bantai hati gue kalo emang gue gak coba untuk mengerti dan mencoba untuk cuek. Tusuk mata gue kalo gue gak mau lihat dan gak mau merem juga. Hancurkan aja semua apa yang gue punya jika memang gue selama ini hanya duduk diam dan asik-asik menikmati kebahagiaan yang ada.

Bunuh aja pelan-pelan semua hal yang gue peduliin jika emang gue tidak berusaha. Baik berusaha untuk peduli, maupun berusaha untuk tidak peduli. Berusaha untuk menjadi suatu sosok, yang bisa masuk menjadi salah satu bagian dari suatu senyum yang sepatutnya ada.

Gue punya cara gue sendiri. Gue punya istilah gue sendiri. Istilah yang perlu dibuat dan diadakan untuk menjaga ekspektasi. Kenapa? Karna gue gak mau liat lagi rasa sakit. Karna sudah cukuplah rasa sakit itu pernah dirasakannya. Bukan karna gue ingin mengotak-ngotaki. Bukan karna gue ingin memirip-miripi. Itulah si tolol gue yang kenapa harus peduli dan ingin sekali agar rasa sakit itu tidak perlu muncul lagi.

Tidak peduli dengan istilah, sebenernya adalah cara yang paling mudah untuk senang. Karna semuanya terjustifikasi. Karna semuanya mungkin. Tapi itu juga cara yang paling dahsyat untuk menyakiti. Karna bahkan dua anak kembar pun punya cara pikir yang berbeda dan mungkin saja bersebrangan jalan sekalipun mereka memakai baju yang sama. Mending jika hanya bersebrangan, tapi bagaimana jika tabrakan?

Gue hanya ingin menyayangi. Sesuai dengan kapasitas yang gue ada dan punyai. Sesuai dengan rasa yang gue rasakan. Tapi kenapa Tuhan? Kenapa gue hanya bisa menjadi alat penyiksa?

Gue sudah tidak tau bagaimana lagi caranya untuk meminta dan meyakinkan. Jika memang kata sudah, usai, berhenti, jauh, selesai, pergi dan mati adalah kata yang ingin dikeluarkan, gue mohon dengan sangat Tuhan, untuk diberi kekuatan.