Tuesday, August 01, 2006

pajah...

mudah ngantuk
mules liat orang carmuk
rambut berketombe
gara-gara orang ngomong bertele-tele
mens tidak lancar
jadi pengen ngegampar
mendadak cinta coklat
supaya otak gak penat
perut membuncit
liat balesan email cuma secuprit
tiba-tiba mulut kering
baru denger kata-kata dari telepon yang berdering
sumpeh gue jadi pusing

ahhhhh,
gak boleh lari lagi
hari masih pagi
mimpi masih dicari

(nyoba lagi...)

why the world needs Superman?

Being stucked in the airport for almost five hours, I was suddenly remembered my intention in continuing Lois Lane’s article. Why the world needs Superman?

I have tried to use the sentences as my YM status for couples of days, and some of my friends were indeed responding the status. It was started with some nonchalant respond such as: ‘Because we need a hero who dares to let his underpants seen’, until some full-of-attention respond: ‘What’s the matter with you, Duy?’

I don’t know why, but that particular legendary movie had touched my heart acutely. Tell you, I sobbed very hard and departure from the theatre with an extreme red eye.

Firstly, I said that it was hard to be Superman. He has to keep his secret for the sake of other people’s feeling. He has to abandon his own need for the sake of making everybody happy. He has to numb his feeling for the sake of making his loved one feel joyous. I think that would be the darn unfairness made by DC in creating this superhero. DC honey, if you want to have a man with steel body, then you have to put extra steel in his heart as well.

Secondly, it would be difficult also for people live in his surrounding. In this case I would rather discuss the Mom. The very important lady that raised him was only seen in some seconds on the crowd in front of the hospital scene. She, the one that help Superman in every single details of his childhood, has to stand in front of the hospital along with everyone else, without any ability to pronounce loudly that she’s the mother. She has to keep silence and redeem all her worries and concerns of his son’s health. She has to let her role of being special not known by public just to keep his son’s identity unknown. Why is that so? I hate any forbidden love that not allowed you to tell everyone that you’re special.

So, my two reasons actually stated that the existence of Superman is actually unfair. He would be fucking useful for everybody else, alas except Superman himself and his inner circle. They have to keep silence for the welfare of everybody else that they barely known, and abandon their own feeling.

However, he’s indeed exists. And needless to say that anything related with everybody versus several people would be won by everybody, whatever the cases are. It’s unfair, but it’s reality. So, if you are that everybody, just remember that even heroes have the rights to bleed.

Monday, July 03, 2006

teman + mantan = berantakan

Dari beberapa jenis simbiosis diantara hubungan sesama manusia, beberapa diantaranya banyakan nggak nyambungnya. Walaupun dengan dalih menjaga silaturahmi, nggak enak, sealmamater, pernah utang budi atau berbagai alesan sentimentil lainnya, they just don’t fit each other. Kalo produk sabun cuci akan refer ke hubungan mertua – menantu, maka gue punya topik lain yaitu teman dan mantan. Walau status gue hampir mencapai jomblo perak (sedaaaapp…), namun demikian gue still yakin gue bisa menulis blog ini dengan sangat subjektip. Hehehe.

Kasus 1: Temannya Mantan
Kadang ketika suatu hubungan putus, bukan hanya sepasang orang yang harus berpisah. Orang-orang dibelakang layar juga kudu ikutan say goodbye, ada yang nggak pake air mata, bahkan ada juga yang air matanya lebih deres daripada yang putus.

Setelah lewat masa-masa idah, kadang yang dirindu bukan si mantan, tapi teman-temannya mantan kita itu. Misalnya, rindu sama kegiatan nonton rame-rame sama geng si mantan, atau rindu naek mobil sobatnya si mantan, atau juga rindu nontonin mantan maen bola di lapangan Bali ketika hujan.

Rindu semacam ini menjadi sulit disalurkan karena akan timbul keanehan-keanehan jika dipaksakan untuk diulang kembali. Gak mungkin dong kita nongkrong2 sama teman-temannya si mantan tanpa kehadiran si mantan. Gak mungkin dong nontonin lapangan Bali padahal yang maen Bola kita gak ada yang kenal. Bisa sih sesekali curi2 kalo misalnya nongkrong bareng temen-temennya dikala sang mantan lagi ke luar kota, tapi kan gak mungkin terus-terusan yah karena kalo ke-gap bareng ditempat yang sama adanya juga awkward moment aja lah yaw.

Keadaan akan semakin buruk ketika mantan sudah punya pacar baru dan kita belum. Udah mah kita maen di geng-nya si mantan, dan mantan bawa pacar barunya, dan kita masih sendirian, dan sialnya kita lagi pengen punya pacar jadi merasa kurang percaya diri. Kurang ngenes apa lagi coba?

Kasus 2: Mantannya Teman
Yang ini gue agak ahlinya. Jika daftar phone book atau list teman-teman YM gue dibuat suatu folder berjudul Mantannya Teman, maka folder itu kalo dibuat pie chart masih bisa ngabis-ngabisin tempat.

Hubungan ini bisa dibagi lagi kedalam beberapa macam kategori. Yang pertama adalah jika teman kita diputuskan secara sadis, seperti diselingkuhi atau ditinggal nikah. Berhubung empati gue suka berlebih, kadang para mantan yang menyakiti temen gue itu lebih takut ketemu gue dibandingkan dengan teman gue. Walau kadang suka sebel juga sih, giliran seneng2 aja situ berduaan terus. Giliran putus2 baru eke dipanggil2. Tapi gue rasa jalan hidup kaya gtu emang embedded di jalur hidup gue deh. Tapi yang jelas, sampe sekarang ada sekitar 2-3 orang yang kayanya takut banget liat gue. Hehehe.

Yang kedua adalah jika teman kita yang memutuskan secara sadis, seperti ditinggal lari dengan penuh janji-janji. Nah kalau begini, ini dia yang namanya dilemma. Harusnya kita justru baik sama si mantan, tapi berhubung yang jahat itu teman kita, jadi nggak boleh juga dimusuhin. Pusing kan lo? Hal seperti ini pernah membuat kesalahpahaman buat gue, setelah teman gue dan mantannya putus sekitar 6-7 tahun yang lalu, tiba-tiba si mantan bilang sama gue, ‘Eh gue sempet sebel loh dulu sama lo, gara2 lo kan, akhirnya gue putus, gue denger kok suara2 lo ketawa2 di belakang pas T*** telepon untuk mutusin gue’. Padahal demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater, bukan gue yang cekikikan waktu itu. Tapi dasar sang mantan kalap, dia langsung meng-klaim bahwa yang ketawa-ketawa adalah sobatnya si T*** waktu itu, yaitu gue. Untuk akhirnya salah paham diantara kami terselesaikan setelah 7 tahun lamanya menunggu. (peace, Win!! Hehehe)

Kasus 3: Temenan sama Mantan
Yang ini kayanya susah-susah gampang. Jika memang mantan berasal dari satu komunitas, maka untuk temenan kembali masih ada kemungkinan. Karena toh masih sering ketemu kalo misalnya ada acara-acara bersama. Tapi kalo dari komunitas yang beda, apa alasannya kalau mau ketemu??

Tapi untuk tipe seperti gue, yang mudah jatuh cinta (dulu sih) sama teman lelakinya, hal ini akan lebih sulit karena jika berusaha temenan lagi, maka nanti akan dekat lagi, maka nanti akan suka lagi, maka nanti akan pacaran lagi. Dan lingkaran setan itu akan berputar dan berputar lagi.

Sebaliknya, kalau putusnya nggak oke, misalnya ketauan tuh si mantan ternyata emang pacaran sama si *** itu sejak lama, dan mereka sudah sleeping together, dan nama gue sudah dijelek-jelekan di komunitasnya.. Sorry dude, no door would open for you! Mau sekomunitas kek, seRT, seRW, kalaupun emang ada kumpul2, situ nongkrong disana, gue nongkrong disini aja yee.

Kasus 4: Mantan Teman
Ini lebih sulit. Karena kemungkinannya lebih besar, dan kadang terjadi tanpa disadari. Karena proses pertemanan berawal tanpa ada ijab kabul, maka biasanya berakhir tanpa talak juga. Makanya suka nggak jelas kapan seorang teman menjadi mantan teman.

Tapi jaman sekarang, banyak kisah-kisah pertemanan yang berakhir tidak kalah tragisnya. Biasanya kalau sudah melibatkan masalah percintaan dan uang, maka status teman bisa melayang. Jadi, mending kita hindari aje pegimane?


Yang paling nggak enak dari keempat hubungan teman+mantan adalah, kesempatan untuk saling gebet menggebet tertutuplah sudah. Orang jarang mau ambil resiko untuk pacaran sama mantannya teman untuk menjaga perasaan si teman, begitupun sebaliknya. Dan kita kagak mungkin juga dong pacaran sama mantan teman?? Lah wong jadi teman aja dia gagal mau coba-coba lebih nih.

Mangkanya ketika salah seorang mantannya teman berkata, ‘coba lo bukan temennya ****, mungkin kita bisa….’ Ahh, sutralah, mending kita nyanyi lagunya Project Pop: ‘Nggak Muuunggkinn, gak muungkiinn, gak muunggkiinn biiisaaa’

Balada Seorang Penebeng Sejati

Nasib gue punya rumah nun jauh diujung sono di Bandung (Kota dimana Taksi sama sekali nggak bisa diandalkan), dan nggak punya mobil, ataupun keluarga yang SIAGA (siap antar jaga), membuat gue harus bergantung kepada teman-teman gue sejak gue kecil. Gue sangat yakin, posisi penebeng itu derajatnya jauh dibawah yang ditebengi karena keluarga gue juga penebeng, dan gue selalu dinasehati untuk nggak nyusahin orang yang ditebengi karna katanya, kita yang butuh. Jadi gue terbiasa untuk memaklumi kalo yang ditebengi suka merasa berhak untuk ini itu karena mereka emang yang punya mobil, dan kaum penebeng hanya bisa duduk manis diam karena memang kami tidak punya pilihan lain.

Waktu gue SD sampe SMP, yang gue tebengi biasanya keluarga dari teman gue. Entah itu kakak, orang tua, maupun supir. Waktu itu gue merasa jauh lebih enak keadaannya, entah karena gue cuek, atau karena gue kesenengan karena suka ikut ditraktir sama para orang tua. Pas SMP, sudah mulai timbul kesadaran dan rasa malu, yang ada nggak enak tiap kali nebeng terus sang keluarga makan dulu dan tentunya gue kudu ikutan. Sering juga gue jadi ikutan nongkrong di kantor mamanya si A atau papanya si B untuk nungguin rapat, padahal gue seumur-umur nggak pernah nongkrongin rapat bonyok gue sendiri.

Mulai SMA, teman-teman sudah bawa mobil sendiri. Jadi yang gue tebengin adalah mereka sendiri atau mobil-mobil pacarnya, sampe mobil temennya temen gue yang kadang gue sendiri nggak terlalu kenal. Kalau yang ini faktor nggak enak sedikit berkurang karena nebeng sama temen sendiri dan kalopun ada acara makan-makan jadinya BM atau gue yang bayar sebagai kontribusi. Tapi ini untuk kasus standar seperti pulang/pergi sekolah/les. Untuk kasus khusus seperti nebeng mobil pacar temen juga enak-enak aja kalo mereka lagi gak marahan, kalo lagi marahan, apes aja gue jadi kambing conge.

Salah satu contoh kasus khusus adalah masa-masa prom night. Buat seorang anak gadis setandar seperti gue, Prom Night adalah sesuatu yang sangat penting dan yang udah gue mimpi2kan sejak lama. Bayangin aja, baju untuk pergi les aja gue bisa mikir 2 hari, gimana baju untuk Prom? Jadi segala kelengkapan Prom udah gue pikirkan sejak lama, termasuk cara pergi.

Waktu SMP, gue ingin sekali pergi Prom sama keluarga gue naek mobil yang isinya keluarga gue doang dan kita nggak nebeng siapa-siapa. Waktu itu, sudah banyak teman yang menawarkan untuk pergi bareng, tapi gue sangat ingin bangga dengan naek mobil sendiri. Alhasil emak gue mengusahakan untuk nyewa mobil dan untuk pengiritan kakak gue yang SMA itu disuruh nyetir. Tapi dasar anak SMA dan sialnya gue, di hari yang penting itu kakak gue entah kemana dan batal nganterin gue. Nangislah gue sejadi-jadinya, dan dengan berat hati nelepon temen gue buat nebeng.

Prom pas SMA, saat dimana semua orang berharap dianterin sama gebetannya. Gue lagi-lagi ngarep doang. Gue inget banget tuh, beberapa saat sebelum Prom, gue nulis di diary gue, ‘Ya Tuhan, gue pengen banget pergi Prom sama orang yang emang pengen nganterin gue, bukan karena gue lagi-lagi nebeng pergi sama temen gue dan pacarnya’. Namun memang nasib berkata lain. Orang yang sangat gue harapkan waktu itu emang udah punya pacar, dan sialnya dia juga sobat gue banget. Jadi yang ada dia ngajakin gue untuk pergi bareng dia dan nanti jemput ceweknya. Desperado banget yah gue? Akhirnya gue pergi prom bareng sama temen gue dan seorang cowok yang pastinya lagi naksir dia (Peace!!!! Man!!!! I knew it!!!). Gue ada disitu sebagai kambing conge sekaligus katalisator supaya obrolan lancar, dan sekali lagi penebeng.

Ketika gue di Jakarta, gue agak senang karena gue bisa bebas dari kasus nebeng-menebeng. Karena disini gue punya pilihan! Sesuatu yang gue gak pernah punya dan memaksa gue untuk jadi penebeng terus. Gue bisa mandiri dengan pakai Taksi jam berapapun juga gue mau pulang. Mungkin terlihat sepele, tapi untuk punya kemandirian dalam hal pergi-pulang bagi gue adalah hal yang sangat krusial. Mungkin duit gue abis, tapi gue bisa nyengir kuda karena gue gak perlu bergantung dan bisa melakukan apapun keinginan gue.

Gue tau semua orang yang gue tebengin baek-baek dan I really thank you on it. Tapi emang ketika gue sekarang-sekarang ini masih –terpaksa- nebeng, masih aja kejadian hal-hal yang ngebuat gue inget masa lalu. Misalnya gue gak boleh makan di mobil temen gue, gue gak bisa dengerin lagu yang gue suka, ikutan berhenti-berhenti karena temen gue laper, atau ketika hari sudah malam dan tebengan gue tiba-tiba gak bisa nganterin sampe rumah gue karna dia kebelet pipis, yang ada gue cuma bisa pasrah dan menghela nafas, nasib penebeng… (sambil jalan cepet-cepet dan nunduk karena takut banget sebenernya karena jalannya gelap)

Makanya, cita-cita gue cuma satu kalau gue punya anak nanti. Gue harus punya mobil besar yang siap nampung semua temen-temennya anak gue, dan gue anterin mereka ke rumah mereka masing-masing walaupun itu dipelosok-pelosok.

Friday, June 23, 2006

to: google (continued)

i hate you!

to: google

my dearly google,

one of my ultimate wish is to have my name massively appears on your website everytime people's googling.

jadi sambil ngetes aja neh.

dwi lestari rahardiani.

will you let me appear if people's googling me?

cheers,
duy

Wednesday, June 21, 2006

Fenomena Rumah Makan Padang

Jika anda orang Indonesia asli, atau pernah tinggal lama di Indonesia, di bagian manapun dari Indonesia, maka tentunya anda tidak asing lagi dengan yang namanya Rumah Makan Padang.

Seorang temannya mantan teman, waktu jamannya Cipularang belum kondang neh, pernah menghitung jumlah Restoran Padang di sepanjang perjalanan dari Jakarta ke Bandung via Puncak. Walhasil ternyata jumlahnya: Ratusan! Berapa jumlahnya? Ratusan! Berapa? Ratusan! (kok kaya iklan biskuit dansa itu yah?). Believe it or not yah -dengan toleransi kesalahan yang cukup tinggi karena sepanjang jalan kan ada masa-masa lengah karena kebelet pipis, atau teralihkan perhatian ke cowok/cewek keren (tergantung selera), atau ketawa-ketawa liat tulisan dan lukisan di belakang truk yang suka ‘gak mungkiiiinnn’- dari beberapa kali perhitungan, angka lebih dari seratus itu selalu muncul. Wah kebayang yah berapa yang tutup abis Cipularang dibuka? (eits, melenceng!)

Harga yang ditawarkan oleh Restoran Padang juga beraneka ragam. Kalau kamu termasuk berkocek tinggi, maka Sari Ratu yang suka ada di Mall-Mall terkemuka di kota anda atau Natrabu bisa jadi pilihan yang tepat sekali. Kalau kocek sedang dan suka melek sampe lewat2 midnight, Sederhana bisa jadi teman sejati. Walau sekarang sering tersiar kabar kalo Sederhana udah mulai jadi korban franchise karna cabang-cabangnya mulai ingkar dari rasa-rasa enak. Yang paling gue sering kena sih keasinan, atau pelayanan yang tidak profesional. Masa gue pesen martabak keluar es kopyor??? Oleh karena itu, pilihlah resto Sederhana yang masih original punya.

Nah, untuk anak-anak mahasiswa seperti masa lalu gue, atau masa kini gue setelah lewat tanggal 20an, banyak sekali restoran padang gurem dan abal-abal yang bisa dijadikan andalan. Mulai dari yang berjudul Jam Gadang, Bundo Kanduang, Sutan Batuah, Sinar Jaya, Maju Mundur, dan beberapa nama lainnya yang kadang emang susah dibedakan antara Rumah Makan Padang, perusahaan bus, atau tempat foto kopi.

Konsep Go International sebenarnya bisa dicontek dari Rumah Makan Padang. Salah satunya bisa dilihat dari keberadaannya di http://id.wikipedia.org, atau tanyakanlah pada rekan anda yang lagi Naek Haji atau lagi penelitian di Singapore. Tapi yang jelas, kalo Go Local, penyebarannya sudah sangat terbukti. Waktu gue ke Jogja, yang dicari: Sederhana, waktu ke Medan, yang dicari: Garuda, waktu ke Bandung, emak gue bilang baru nraktir mbak-mbak di Restoran Padang di depan, temen gue susah cari makan di Nias, adanya: Resto Padang, waktu jalan-jalan ke Bali makan di: Resto Padang.

Masuk ke menu, hmmm.. slurp2. Words wont ever describe it deh. Dengan berbagai variasi, makanan padang bisa memuaskan selera banyak orang dengan mudahnya. Makanya, terkutuk banget tuh orang yang udah ngebuat temen gue trauma sama gulai otak!!! Untung sekarang udah sembuh, dan yang ada dia bisa makan satu potong otak dengan 3 pucuk Nasi. Magic! Temen gue yang laen kebalikannya, satu pucuk Nasi bisa dengan 3 ayam pop. Kalo gue, kadang pake Kikil, Dendeng, Paru dan yang jelas kudu ada perkedel dan kerupuk. Kalo lo?

Monday, May 29, 2006

an injured heart was harder to cure

another eartquake was happened again the last saturday.

a friend wonders, why disasters mostly happened on holidays? Where all people were unprepared, both the casualties or the aid parties.

but actually, could we really prepare for disasters?

in case of fire, skycrapers buildings were equipped with anti-fire tools. Hydrants are everywhere. Emergency stairs are at everycorner. Emergency exit trainings are conducted every month.

in case of earthquake, Japan was equipped with many anti-earthquake tools. The SWAT troops were prepared for any emergencies. Children were given awareness since the very beginning.

in case of hurricane, people were building hideaways in basement. Researches were conducted to predict on the occurences to evacuate people earlier.

yes of course, those efforts could indeed redeem the casualties numbers. but the after effect would always be harder.

no one was aware that they're going to have a very different life after the tragedy
no one was ever prepared for the deaths of the loving ones
no one would realize that the emergency exit was merely temporary exit
and it would be very difficult for them to really exit from the whole disaster
because an injured heart was harder to cure.

Monday, May 22, 2006

takut


whirl in your tummy.
goosebumps in the back of your neck.
eyes going nowhere.
sometimes teary.
heart thumping.

will the new job good for me?

adooohhhhhhhhhhhhhhhh...

Friday, May 19, 2006








smile!


cause everyone deserve a pleasant smile...