Wednesday, February 07, 2007

masih kurang juga??

Setelah kunjungan sana sini di Aceh, sekarang gue lagi bantuin Bogel nongkrong-nongkrong di Kebon Kacang Inn buat ngedit report untuk Diakonie. Ada beberapa tempat yang gue sering denger doang tapi nggak pernah kesitu, salah satu darinya adalah Pulau Simeulue di pantai barat Aceh.

Salah satu grantee kita ada disini, sebuah LSM yang mungkin baru muncul setelah kejadian tsunami. Kita pilih LSM ini karena sebelumnya telah digaransi dan direkomendasi oleh beberapa orang yang kita percaya. Yang jadi motornya disini adalah seorang cewek. Jadi big picturenya adalah sebuah LSM di daerah rawan bencana di sebuah pulau dengan tidak banyak akses terhadap Aceh dan dimotori oleh seorang cewek pula. Eksotis banget kan? Gimana duit-duit dari berbagai LSM yang selalu mengelu-elukan women equality gak pada berbanjiran kesini?

Ternyata dampaknya ke masyarakatnya juga jelas terlihat. Dibandingkan dengan sekitar 8 atau 9 grantees lain yang kami kunjungi waktu itu, yang ini jelas parah. Well, beberapa yang lain juga ngaco sih, tapi setidaknya mereka hadir sewaktu kita hendak kesana dan mau mendengarkan. After all, willingness to listen would be the one that matters right?

Parahnya adalah mbak-mbak motor penggerak LSM ini sayangnya sudah berubah jadi selebritis yang selalu diundang kesana kemari. Ketika kesana kemari, dia selalu membawa laptop yang berisi data laporan untuk kita yang sudah tertunggak begitu lamanya. Semua orang lain di LSM itu nggak ada yang tahu keberadaannya. Misterius lah jadinya si mbak ini.

Lalu akhirnya gue melihat doski diwawancara pada film report itu. Emang beda ya antara yang murni dan sudah dikarbit? Tutur bahasanya itu loh, emang udah rapi jali. Lalu kemudian yang membuat gue terhenyak lagi adalah masyarakat disitu.

Kaget dengan banyaknya uang yang masuk kedaerah tersebut membuat mereka –menurut penilaian pribadi gue- jadi semena-mena dengan uang tersebut. Contohnya adalah bisa-bisanya di proposal adalah membuat ‘bengkel’ as in workshop untuk perabot misalnya, namun it turns out mereka membuat bengkel as in bengkel motor. Ja ampyun.

Dan puncaknya adalah ada sekitar 5 orang warga yang diwawancara. Mereka semua mengatakan –dengan kompaknya- bahwa uang dan barang yang diberikan MASIH BELUM CUKUP. Bahkan dengan serunya sekelompok ibu-ibu pembuat tikar mengeluarkan daftar barang yang masih mereka perlukan. Semua bahan yang mereka perlukan ini sebenarnya bukan barang yang hilang atau rusak karena tsunami. Misalnya ada seorang petani yang sekarang minta traktor super keren untuk membajak sawah padahal ketika ditanya sebelum tsunami mereka hanya memakai kerbau. Boleh kah jika gue bilang, ngelunjak yee??

Gue mencoba bertahan dengan mendengarkan, apa sih alasan mereka untuk meminta dan meminta lagi? Lalu penjelasannya adalah, “Karena harga-harga naik”, “Anak-anak mulai sekolah, kami perlu biaya”. HELLLOOOO... you’re too overwhelmed by all this stuff. It’s a truly resemblance of blessing in disguise. Ingin rasanya gue berteriak sama mereka, “Hey, nyokap gue itu hanya tukang jahit tapi dia bisa nyekolahin gue dan kakak gue sampe kuliah tanpa harus minta kesiapapun!”. Hebat deh tuh orang Aceh! Hehehe.


3 comments:

yaya said...

hoj duy...kalo gue ngeliat culture shock ini juga sebagian besar merupakan dosa para ndoro dari jakarta-amerika-belanda-jerman-inggrsi whatever yang ngerasa udah jadi pahlawan banget karena membantu korban tsunami dengan banjiran duit dllsbgnya.

dan para korban ini nggak bisa sepenuhnya disalahin ketika they turn out to be opportunistic karena mereka juga belajar dari para ndoro yang juga banyak sekali yg opportunistic.

dan gaya kemana2 nenteng laptop itu kan juga mereka pelajari dari para imigran luar aceh yg hijrah ke aceh untuk 'membantu' orang aceh.

yah...ini namanya nasi udah jadi rengginang...mau diapain lagi? dan mengubah kebudayaan yg udah terlanjur terpakem seperti itu enggak gampang juga akhirnya

serius yak? :p

24frames said...

huaaa...
itu terjadi juga di sini duy...
tapi pemerintahnya yg kayak gitu...
udah dikasih genset beribu2 (gak ding, cuman 18 biji) masih minta ongkos angkut.
Udah dikasih internet gratis, eh, ngomel kok gk dikasih laptop
bujug buset....

Goio said...

hhhhhhh... *menghela nafas...

tapi... tetap semangat! kita (bangsa indonesia secara umum) bisa berubah ke arah yang lebih baik.. AYOOO!!